Usaha

Usaha Tangga Kejayaan.

Ikhlas

Ikhlas diri dalam mencari Ilmu.

Tawakal

Berserah kepada Tuhan Selepas Berusaha.
 

.

Carian Dalam Blog

Sajak Kemanusiaan: MEHZA DARI GAZA

 

MEHZA DARI GAZA

Oleh: Qamarul Arifin Abdullah

 

 
kredit: utusan


Namaku Mehza
anak kecil dari bumi yang mendung langitnya
umurku belum sempat hafal doa
tapi telah hafal bunyi dentum menyayat jiwa

 

tubuhku kecil
bertelanjang kaki di tenda lusuh

yang selalu digoncang guruh
mata bundarku belum sempat melihat taman
namun kenyang menatap runtuhan

 

ayah selalu mendukungku pergi
melewati lorong-lorong sunyi
kadang dia tertawa palsu
dan tangannya menggeletar

seperti daun menahan angin liar

 

aku marah pada ibu yang tak menyebut namaku lagi
aku marah pada abang yang diam entah ke mana pergi
aku marah pada roti yang dibakar hanya dalam mimpi
aku marah pada langit yang teriak mengaum berapi
aku marah pada dunia yang buta hati nyah endahkan kami

 

katakanlah kepadaku dunia
jika aku cuma anak kecil bernama Mehza
yang hanya selarik bayang di pinggir derita
mengapa duniaku bukan mainan dan gula-gula

tapi serpihan pilu dan runtuhan duka

SAJAK GAZA: RATIB DARAH DI BUMI TERLUKA

 

GAZA: RATIB DARAH DI BUMI TERLUKA

Oleh: Qamarul Abdullah

 

 


Di hujung bumi yang berbalut nestapa

bumi ini terkulai tubuhnya luka

bayi-bayi belum sempat bernafas dunia

dikambus debu sengsara

langitnya runtuh tanahnya mengaduh

dan sunyi menjadi imam kepada azan yang bisu

 

Tiada buaian buatmu anak kecil

hanya jeritan pengganti syair

susu ibu telah berubah

menjadi bara dan amarah

kelaparan pula menjadi lolongan

yang tak sempat disebut

 

Maka bangkit durjana dari jantung bumi

bangsa murka menjulang bangkai nurani

bersorak di menara besi

bagai hakim buta menghukum tanpa bicara

 

Wahai manusia yang masih punya rasa

bukalah jendela hatimu

dengar, lihat, dan rasa

Gaza adalah cermin dunia!

Gaza tidak rebah

ia dicencang dan ditertawa!

lalu jangan kau bisukan tangis di hujung langit

kerana diam itu peluru buat penjarah jiwa

dan barangkali esok, giliranmu pula bertanya: “mengapa?”

 

 

SAJAK TEMPAT TEDUH YANG BUKAN LAGI MILIK KITA

 

TEMPAT TEDUH YANG BUKAN LAGI MILIK KITA

Oleh:
Qamarul Abdullah

 

 

Di lorong-lorong reruntuhan

seorang ibu menjahit duka pada kain kafan

anak kecilnya yang tidur dalam kantung debu

ditimbus serpih senjata

 

Seorang lelaki tua menyemai zaitun

di celah batu dan darah

baginya masih ada musim

yang belum dibunuh

 

Anak-anak kecil

bermain dengan cebisan kelmarin

belajar eja daripada nama-nama syahid

 

Langit bagai cermin retak

mendung bagai memantul nestapa

Laut yang dulu mendodoi harapan

kini merah, asin dengan air mata

Rumah-rumah bukan lagi dinding dan atap

tetapi liang sunyi robohan sirah yang membeku

 

Waktu ini

Gaza tidak berdetik

ia membatu dalam lenguh

doa-doa yang tertangguh

 

Tempat teduh ini

sudah dirampas bayang-bayang haloba,

Tempat teduh ini

bukan lagi milik kita.

 

 

 

Berilmu

“Waktumu terbatas, jadi jangan sia-siakan dengan menjalani hidup orang lain. Jangan terjebak oleh dogma – yaitu hidup dengan hasil pemikiran orang lain.” – Steve Jobs

Beriman

“Teruslah tersenyum, karena hidup adalah hal yang indah dan ada banyak hal untuk disyukuri.” — Marilyn Monroe

Beramal

“Usaha dan keberanian tidak cukup tanpa tujuan dan arah perencanaan.” - John F. Kennedy